(Lahir 1351 H./1887 M. - Wafat 1397 H./1977 M.)
KH. Ahmad Badawi adalah putra dari seorang
saudagar kaya sekaligus seorang kyai di kota Kaliwungu Kendal yang bernama KH.
Abdurrasyid. Pada masa itu, KH. Abdurrasyid merupakan pedagang yang paling
sukses, bahkan barang-barang dagangannya biasa diekspor ke negara-negara Asia,
Malaysia, Brunei, Eropa (Belanda) dan Timur Tengah. Sehingga tidaklah mengherankan
kalau sebagian putra-putrinya dan adiknya dipondokkan di kota Mekah. Diantara
putra-putrinya yang dipondokkan di kota Mekah yaitu; KH. Ahmad Badawi, KH.
Utsman, KH. Umar, KH. Maksum, dan saudara-saudara lainnya, bahkan ada 2
putrinya yang meninggal di kota Mekah.
KH. Ahmad Badawi menuntut ilmu di
kota Mekah selama belasan tahun. Beliau disamping menghafal Al-Qur’an juga
mempelajari ilmu-ilmu syari’ah. Diantara guru-guru beliau di kota Mekah yaitu;
Syekh Ahmad Ibadi al-Misri, Syekh Abdullah bin Ibrahim al-Misri dan Syekh
Kamali. Pada waktu menuntut ilmu di kota Mekah, KH. Ahmad Badawi menuntut ilmu
yang diantara gurunya sama dengan gurunya KH. Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.
Setelah belasan tahun menuntut ilmu
di kota Mekah, beliau kembali ke tanah kelahirannya yaitu Kaliwungu. Namun,
setiba dari kota Mekah beliau tidak lantas pulang ke kota kelahirannya
(Kaliwungu), tetapi beliau terlebih dahulu mondok (tabarukan) di Pesantren
Krapyak asuhan KH. Munawwir (Yogyakarta) dan Pesantren Tebuireng asuhan KH.
Hasyim Asy’ari (Jombang).
Sewaktu menjadi santri di Tebuireng
beberapa bulan, KH. Hasyim Asy’ari mendengar salah satu santrinya kalau tadarus,
bacaan Qur’annya fasih dan suaranya merdu. Kemudian Ahmad Badawi dipanggil dan
diminta oleh gurunya (KH. Hasyim Asy’ari) untuk mengajar santri-santri Tebuireng
dan kalau bulan Ramadhan tiba Ahmad Badawi disuruh sima’an Al-Qur’an di masjid
Pesantren Tebuireng.
Setelah dianggap cukup mondok dan
tabarukan (ngalap barokah) di pondoknya KH. Hasyim Asy’ari kurang lebih 2 tahun,
Ahmad Badawi mohon izin pamit (pulang), namun KH. Hasyim Asy’ari tidak berkenan
(tidak memperbolehkan). “Kamu disini saja, saya jadikan mantu”, kata KH. Hasyim
Asy’ari. “Saya mau berbicara dengan orang tua dulu”, jawab Ahmad Badawi. Akhirnya
Ahmad Badawi kirim surat kepada KH. Abdurrasyid (ayahandanya) balasan suratnya
disuruh minta maaf kalau kamu (Ahmad Badawi) sudah dijodohkan dengan sepupunya
yaitu Sa’danah putri dari KH. Ridwan.
Setelah mendengar jawaban surat dari
ayahnya (KH. Abdurrasyid), akhirnya santri yang bernama Ahmad Badawi diperkenankan
pulang. Beliau (KH. Hasyim Asy'ari) berpesan “Jangan lupa kalau sudah sampai
rumah apa yang sudah kamu dapat di Pesantren Tebuireng jangan kamu lupakan,
terutama misi organisasi NU sebar luaskan di daerahmu”. Ahmad Badawi menjawab “inggih
sendiko dawuh”. “Aku Pilih NU”, demikian slogan Ahmad Badawi.
Setelah beliau kembali ke kota
santri Kaliwungu beberapa tahun, kemudian Ahmad Badawi menikah dengan sepupunya
yaitu Sa’danah binti KH. Ridwan dari Kampung Kauman, Krajankulon. Pernikahannya
dengan sepupunya itu dikaruniai 3 putra tapi Allah berkehendak lain, ketiga
putranya itu meninggal semua di usia balita.
Karena beliau ingin sekali mempunyai
putra untuk generasi penerusnya, akhirnya beliau menikah lagi (poligami) dengan
gadis yang bernama Jundariya putri dari pasangan Kyai Isa dan Nyai Aisyah dari
Kampung Sabrang Lor, Krajankulon.
Setelah pernikahan kurang lebih 5 -
7 tahun dengan istri ke-2 juga belum dikaruniai putra, kemudian beliau
memutuskan menikah lagi dengan janda bernama Samroh binti Abdurrohman dari
Kampung Sawahjati, Krajankulon, yang sudah punya anak 1 yang bernama Ikyanah. Dengan
maksud kalau beliau nikah dengan janda yang sudah punya anak, kemungkinan besar
kelak akan punya keturunan.
Alhasil, setelah pernikahan dengan
istri ke-3, istri ke-2 membuahkan hasil alias hamil yang pertama kalinya. Selang
beberapa bulan (7 - 8 bulan) istri ke-3 menyusul hamil juga. Akhirnya buah dari
hasil pernikahan dengan istri ke-2 dikaruniai 7 putra-putri yang no. 2 dan no.
4 meninggal di usia balita. Dan hasil pernikahan dengan istri ke-3 dikaruniai 3
putra dan ibunya wafat disaat putranya masih belum dewasa, bahkan putra yang
ke-3 yang namanya Slamet, dia masih balita belum begitu mengenali ibunya.
Berikut ini penjelasan lengkapnya :
1. KH. Ahmad Badawi dengan Nyai Sa’danah (istri ke-1)
Memiliki 3 putra (meninggal dunia
semua di usia balita)
2. KH. Ahmad Badawi dengan Nyai Jundariya (istri ke-2)
Memiliki 7 putra-putri (2 meninggal
dunia di usia balita), yaitu; Ahmad Mujib, KH. Ahmad Baduhun, KH. Ahmad
Fathullah, Lam’atun.
3. KH. Ahmad Badawi dengan Nyai Samroh (istri ke-3)
Memiliki 3 putra, yaitu; KH.
Nujumuddin, KH. Munawiruddin, KH. Slamet Qomaruddin.
KH. Ahmad Badawi memulai mengajarkan
Al-Qur’an kepada masyarakat Kaliwungu sewaktu belum punya putra, lambat tahun
terdengar di Kaliwungu ada ahli mengajar tahfidzul Qur’an dengan fasih. maka
berdatangan santri-santri dari luar kota (luar daerah) padahal belum punya
tempat/pondok. Akhirnya santri-santri ditampung di rumah (serumah dengan kyai
serta putra-putrinya) baik santri laki-laki maupun perempuan.
Setelah santri agak banyak, para
santri mengusulkan untuk mendirikan Pondok Pesantren, tapi beliau tidak kerso
(tidak berkenan). Beliau hanya berkenan membuat Majlis Ta’lim saja, kemudian
terbentuklah Majlis Ta’lim bernama : Majlis Ta’lim Tahfidzul Qur’an “Miftahul
Falah”.
Baca : KH. Ahmad Badawi, Pentashih Mushaf Pertama di Indonesia
Di samping mengajar/mendidik para
santri dan putra-putrinya dengan penuh disiplin, beliau tidak pernah mengandalkan
atau berharap dari bulanan (syahriyah) santri-santri untuk kebutuhan
sehari-harinya, beliau lebih memilih mencari nafkah (ma’isyah) dengan menjadi
petani dan petambak, beliau juga pernah menjadi pedagang toko kelontong di sebelah
selatan Masjid Al-Muttaqin tepatnya sekarang tanahnya yang dibeli H. Abdul
Basith Ibrahim (toko kayu).
Beliau juga bekerja sebagai kusir
“andong” atau “delman”. Namun cuma buat hiburan saja, beliau tidak pernah minta
upah/ongkos setiap ada penumpang alias gratis. Pernah ada suatu kejadian, ada santri
mau mondok tanya alamat pondok penghafal Al-Qur’an dimana ya, tanya calon
santri. Beliau tidak menunjukkan bahkan diajak naik andong seraya berkata, “Ayo
ikut saya aja nanti akan saya antar”. Sesampai di pondok (Kp. Kapulisen) santri
tadi hampir tidak percaya, pondok kok kaya begini (suara dalam hati santri)
akhirnya calon santri itu masuk dan istirahat, sore harinya sowan pada kyainya
untuk menjadi santri penghafal Al-Qur’an, si santri itu kaget, heran campur
malu, ternyata yang jadi kusir andong tadi Kyai yang bakal mengajar/mendidik saya.
Setelah menjadi santri baru ikut mengaji ternyata belajar fathah aja kok
berbulan-bulan, akhirnya santri baru itu bosan dan pulang (boyong).
Meskipun beliau bekerja sebagai
kusir andong tetapi beliau tetap disiplin dan istiqomah mengajar/mendidik
santri-santrinya. Sehingga banyak santri-santri beliau menjadi ulama besar.
Diantara santri beliau yang menjadi ulama atau tokoh masyarakat yakni :
1.) KH. Asror Ridwan, Kaliwungu,
Kendal (Pendiri Majelis Ta’limul Qur’an Kauman)
2.) KH. Mahfudz Sarbini, Kaliwungu,
Kendal (Imam Masjid Al-Muttaqien Kaliwungu)
3.) KH. Yusuf Junaedi, Ciomas, Bogor
(Pendiri Pesantren Ilmu Al-Qur’an Ciomas, Bogor)
4.) KH. Ahsin Sakho Muhammad,
Jakarta (Pentashih Mushaf Depag RI.)
5.) KH. Humaidullah Irfan,
Kaliwungu, Kendal (Pengasuh ke-3 Ponpes APIK Kaliwungu)
6.) KH. Mahfudz, Indramayu (Pendiri
Pesantren Tahfidz Indramayu)
7.) KH. Abu Bakar Shofwan, Cirebon
(Pendiri Pesantren Tahfidz Gedongan, Cirebon)
Dan masih banyak lagi santri-santri
beliau yang menjadi ulama besar maupun tokoh masyarakat di wilayahnya
masing-masing.
Pada tanggal 25 Shafar
1397 H. atau bertepatan dengan tanggal 1 Maret 1977 M. KH. Ahmad Badawi wafat.
Wallahu A’lam
Oleh : Saifur Ashaqi
Sumber : Dikutip dari
berbagai sumber